JAKARTA - PT Harta Djaya Karya Tbk tengah menyiapkan langkah penting dalam perjalanan bisnisnya.
Perusahaan berkode saham MEJA ini resmi memproses rencana akuisisi saham PT Trimata Coal Perkasa sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha.
Masuknya Harta Djaya ke sektor pertambangan batubara dinilai sebagai upaya memperluas sumber pendapatan. Langkah ini juga mencerminkan keinginan perseroan untuk memperkuat fondasi bisnis jangka panjang.
Langkah Awal Diversifikasi Usaha
Rencana akuisisi saham PT Trimata Coal Perkasa menjadi tonggak awal Harta Djaya dalam menjajaki bisnis tambang. Selama ini, perseroan dikenal beroperasi di sektor non-tambang.
Diversifikasi ini diharapkan dapat menciptakan portofolio usaha yang lebih seimbang. Dengan masuk ke sektor batubara, MEJA berupaya menangkap peluang dari komoditas energi yang masih memiliki permintaan tinggi.
Manajemen menilai langkah tersebut relevan dengan kondisi pasar dan potensi pertumbuhan yang masih terbuka lebar.
Kesepakatan Bersyarat Telah Ditandatangani
Rencana akuisisi tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian bersyarat. Kesepakatan ini melibatkan pemegang saham pengendali MEJA, PT Triple Berkah Bersama, dengan pemegang saham pengendali PT Trimata Coal Perkasa.
Direktur Utama Harta Djaya Karya, Richie Adrian Hartanto, menjelaskan bahwa kesepakatan awal telah ditandatangani pada 22 Desember 2025. Seluruh proses selanjutnya akan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Penandatanganan ini menjadi dasar bagi tahapan lanjutan menuju realisasi akuisisi saham tambang tersebut.
Nilai Transaksi dan Skema Pembayaran
Dalam perjanjian awal, nilai akuisisi disepakati sebesar Rp 1,6 triliun. Nilai tersebut mencerminkan pembelian 45% saham pengendali PT Trimata Coal Perkasa.
Realisasi pembayaran akan dilakukan melalui beberapa tahapan. Skema ini dirancang agar proses akuisisi dapat berjalan terukur dan sesuai kemampuan keuangan.
“Proses akuisisi selanjutnya akan mengikuti mekanisme serta ketentuan yang berlaku di pasar modal,” jelas Richie dalam keterangan resmi, Senin (5/1/2026).
Manajemen menegaskan seluruh tahapan akan dilakukan secara transparan dan sesuai regulasi.
Komitmen Pengendali Perkuat MEJA
Direktur PT Triple Berkah Bersama, Noprian Fadli, menyampaikan bahwa rencana akuisisi ini merupakan bentuk komitmen pemegang saham pengendali. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat fondasi dan pengembangan usaha Harta Djaya.
Menurut Noprian, porsi saham yang akan diakuisisi telah memenuhi persyaratan sebagai saham pengendali. Dengan demikian, MEJA nantinya akan berstatus sebagai pemegang saham pengendali PT Trimata Coal Perkasa.
Dia juga menegaskan bahwa tidak terdapat hubungan afiliasi antara Triple Berkah Bersama dengan PT Trimata Coal Perkasa. Hal ini penting untuk memastikan transaksi berjalan independen dan sesuai aturan pasar modal.
“Saham yang akan diakuisisi tersebut memiliki hak yang memenuhi persyaratan sehingga MEJA nantinya akan menjadi pemegang saham pengendali di PT Trimata Coal Perkasa,” kata Noprian.
Potensi Besar Aset Batubara Trimata
PT Trimata Coal Perkasa dikenal sebagai pemilik aset batubara berskala besar. Perusahaan ini memiliki konsesi tambang yang berlokasi di Sumatera Selatan.
Luas wilayah konsesi Trimata Coal Perkasa mencapai sekitar 11.640 hektare. Angka tersebut menunjukkan skala operasi yang signifikan di sektor pertambangan batubara nasional.
Dari sisi sumber daya, perusahaan ini memiliki estimasi mineable coal resources sekitar 693,7 juta ton. Potensi tersebut menjadi salah satu daya tarik utama bagi Harta Djaya.
Dengan aset sebesar itu, Trimata Coal Perkasa dinilai memiliki prospek produksi jangka panjang yang menjanjikan.
Izin Produksi Sudah Dikantongi
Selain sumber daya yang besar, PT Trimata Coal Perkasa juga telah mengantongi izin produksi. Izin tersebut tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya IUP Operasi Produksi.
RKAB tersebut telah disetujui oleh instansi berwenang untuk periode 2024 hingga 2026. Dalam periode itu, perusahaan memperoleh izin produksi batubara dengan total volume mencapai 2,6 juta ton.
Keberadaan izin ini memberikan kepastian operasional bagi bisnis tambang yang akan diakuisisi. Hal ini juga mengurangi risiko perizinan di tahap awal pengelolaan.
Bagi Harta Djaya, kepastian izin produksi menjadi faktor penting dalam menilai kelayakan investasi di sektor tambang.
Arah Bisnis MEJA ke Depan
Masuknya Harta Djaya ke bisnis pertambangan menandai perubahan arah strategi perusahaan. Diversifikasi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing perseroan.
Manajemen melihat sektor batubara masih memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan energi. Oleh karena itu, akuisisi ini dinilai sejalan dengan peluang pasar yang ada.
Ke depan, keberhasilan akuisisi PT Trimata Coal Perkasa akan menjadi penentu langkah lanjutan MEJA. Proses integrasi dan pengelolaan aset tambang akan menjadi fokus utama.
Dengan strategi yang terukur dan dukungan pemegang saham pengendali, Harta Djaya optimistis dapat memaksimalkan potensi bisnis baru tersebut.